Selasa, 13 Februari 2018

Hidayah Hijabku Melalui Suami

Awal perjalanan saya dalam memutuskan memakai hijab tidaklah mudah. Saya memulai untuk hijrah berhijab di akhir tahun 2010 masa-masa terakhir menikmati SMK. Dimana tahun tersebut saya dekat dengan suami,tentu saja suami banyak berperan dalam membantu saya. Mengapa?? dalam hidup saya untuk pertama kalinya seorang lelaki berkata "de...cantik pakai hijab. De kalau mau ketemu kk sesekali pakai hijab ya" selama saya mengenal lelaki semasa SMK tidak pernah ada yang berusaha mengatakan itu kepada saya. Justru mereka menikmati dan enjoy saya memakai pakaian apa adanya (taukan pakaian anak-anak ABG kalo nongkrong 🙈).


Malu?? tentu saya merasa malu dengan diri saya sendiri,Naudzubillah ampuni saya atas semua dosa-dosa semasa muda 😓. Saya berpikir hingga lama "pasti hijab panas dan pakaiannya pun harus ribet terus gak bisa gaya-gayaan,dsb." namun saya memberanikan diri "Bismillah...saya yakin" tepat disaat saya janjian bertemu dengan suami awal mula memakai hijab,kata pertama yang keluar dari mulut suami "De ini kamu??" saya berusaha menutupi rasa malu dihadapannya namun dia berusaha meyakinkan saya "semoga tidak pernah lepas ya de". Sejak itulah saya tidak pernah melepas hijab sampai teman-teman saya bilang "Hijab karna cowo nggak bertahan lama" namun saya hanya tersenyum mendengarnya sambil bercanda. Mungkin bagi orang lain saya memulai hijab karena lelaki bukan hidayah dari Allah SWT tapi bagi saya hidayah itu mungkin diberikan melalui suami.

Tahun 2011 setelah lulus SMK ini menjadi tahun yang sangat banyak godaan dan cobaannya. Otomatis setelah lulus pasti ingin mencari kerja dong,saya jalan kesana-kemari mencari lowongan pekerjaan tanpa melihat status hijab saya. Namun sangatlah tidak mudah,sekalinya dapat pekerjaan yang hanya bermodalkan ijazah SMK saya mendapat pekerjaan sebagai kasir disebuah Pusat Pembelanjaan terkenal di jakarta yang mau tidak mau saat bekerja harus melepas hijab.

Bagaimana tanggapan suami?? sebab kami waktu itu hanya sebatas antar senior dan junior dan teman paling dekat dia tidak bisa melarang saya,semua pilihan ada di saya (tapi kalau ada teman kerja deketin saya dia tau dan marah2 hahaha😆). Di tahun ini pula bapak menanyakan kedekatan saya dan suami,untuk pertama kalinya saya melihat suami sedikit gugup biasanya mah sok bijak dan humoris hahaha😆. Akhirnya dia mengambil langkah untuk berkomitmen dalam hubungan kami,tetap hubungan kami seperti biasa antara senior dan junior namun mungkin untuk segala perhatian dan obrolan sedikit berbeda dari biasanya.

Kerja di pusat perbelanjaan tidak bertahan lama sekitar 6 bulan saya memutuskan berhenti,alasannya klasik karena jam kerjanya saya tidak sanggup 🙈 kalau lembur dari pagi ketemu pagi lagi sampai saya 2x masuk RS karena tipes (suami yang bolak balik nemenin RS padahal lagi skripsi). Nggak lama setelah berhenti saya mendapatkan tawaran kerja dari teman semasa SMK namun masih diposisi yang sama kasir bedanya ini di restaurant playground gitu untuk hijab tetap saat bekerja harus dilepas namun sekitar saya bekerja hampir 1 tahun kebijakan kantor pusat akhirnya mengizinkan saya memakai hijab.

Perasaan saya bersyukur "alhamdulilah terima kasih",saya cukup lama bekerja disana hampir 1,5 tahun namun karena melihat gaji yang tidak naik-naik dan sedikit problem dengan salah satu teman kerja akhirnya saya mencoba mencari pekerjaan yang lebih baik lagi. Tahun 2013 saya mendapat pekerjaan sebagai admin di dalah satu perusahaan daerah Jakarta. Alhamdulilah kali ini dibantu oleh suami dan temannya mencari pekerjaan yang mau menerima saya dalam berhijab. Pekerjaan kali ini hanya kontrak sekitar 3 bulan saja setelah itu saya menganggur sekitar 5 bulanan,lalu mendapat pekerjaan baru itu pun hanya bertahan 3 bulan juga karena gaji yang tidak sesuai dengan kemampuan saya (nombok mulu tiap bulan 😆).

Sempat putus asa karena setelah itu menganggur cukup lama,mencari pekerjaan sana sini namun tidak ada hasilnya. Akhirnya tahun 2014 adik ipar saya menawarkan kerja di restaurant sebagai kasir,dan saya paham betul pasti korbannya saat bekerja harus melepas hijab. Saya meminta pendapat suami,akhirnya suami hanya bilang "terserah kamu,jalani aja". Yasudah saya pun bekerja di restaurant itu sekitar 6 bulanan,sampai pada akhirnya saya mendapatkan pekerjaan baru di sekolah SMP Swasta Jakarta mungkin gaji kecil namun saya menikmati sekali karena pekerjaan itu sesuai dengan latar belakang pendidikan saya tanpa harus melepas hijab. Sungguh saya sangat bersyukur lagi-lagi suami membantu saya dalam mencari pekerjaan.

Selama saya bekerja di sekolah jujur saya nyaman sekali,cukup lama sekali bertahan hampir mau 2 tahun saya menjalani pekerjaan itu sebagai Staff Tata Usaha. Di situ pula awal masuk jenjang hubungan saya dan suami ke tahap yang lebih serius. Pada tanggal 06 November 2014 kami bertunangan,lalu tanggal 09 Agustus 2015 melangsungkan pernikahan dan awal tahun 2017 saya memutuskan berhenti bekerja karena harus mengurus zahrani yang waktu itu sudah memasuki tahap Mpasi. Saya tidak memungkinkan meninggalkan zahrani dengan kondisi ibu mertua sakit.

Hingga kini suami tidak pernah berhenti untuk memberi nasihat kepada saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi,selalu memberi saya saran agar lebih baik lagi dalam menggunakan hijab.
Suami berkata "Tidak semua wanita berhijab itu sholehah namun wanita sholehah itu pasti selalu berhijab. Semua manusia pasti masih jauh dari kata sempurna yang dapat dilakukan adalah hanya terus dan terus memperbaiki diri. Sadar atau tanpa sadar pasti saat kita memakai hijab pasti ada sesuatu yang berbeda dalam hati dan diri kita hingga akhirnya hijab menjadi sebuah mahkota secara pribadi bagi kita."

Pada akhirnya kami mematahkan semua omongan yang mengatakan bahwa hijab itu harus bersihkan dulu hati atau hijab karena lelaki tidak akan bertahan lama. Saya berhijab bukan hanya karena suami tapi mungkin Allah SWT memberikan hidayahnya melalui suami yaitu dengan memberikan nasihat kepada saya,lalu hubungan kami pun akhirnya bisa bertahan hingga jenjang pernikahan bukan karena hijab saya bertahan namun karena komitmen kami berdua yang dari awal bukan main-main.

Jadi jangan pernah menunggu hidayah hi jab dengan berbagai alasan,jika ingin menjalankan kewajibanmu sebagai muslimah maka yakinlah. Mungkin saat ini bukan hijab syar'i yang saya pakai,tapi saya akan selalu berusaha untuk belajar menjadi wanita berhijab yang lebih baik lagi. Insya allah tidak ada yang tidak mungkin kalau kita yakin dan sungguh dalam menjalankan kewajibanNya.


10 komentar:

Amallia Sarah mengatakan...

Wah sama dengan ku nih mbak. Melalui suami. Semoga kita bisa selalu iatiistiq ya mba

Uli Hartati mengatakan...

apapun alasan memang karena seperti itu jalannya ya, yang penting adalah setelahnya kita bisa memantaskan diri untuk selalu berbuat kebaikan, inshaallah,,aamiin

Dwi Arum mengatakan...

kita saling mendoakan ya mba, semoga tetap istiqomah di jalanNya

Dian Kelana mengatakan...

Bagi sebagian orang hijab itu hanya mode, tapi bagi sebagian lagi hijab itu adalah kebutuhan dalam mendekatkan diri kepada Allah

shela anjar rani mengatakan...

amin...insya allah mba 😊

shela anjar rani mengatakan...

amin 🙏

shela anjar rani mengatakan...

insya allah mba...amin 🙏

shela anjar rani mengatakan...

betul sekali 😊

Mutia Faridah mengatakan...

Baca Ceritanya saya ikut penasaran, kapan ya cerita nikahnya ini hehe. Betul memang banyak jenis pekerjaan yang belum support karyawan berjilbab padahal gak mengurangi produktivitas juga.

Annisa mengatakan...

Maa syaa Allah.. hidayah Allah itu bisa datang melalui siapa saja ya.. semoga bisa istiqomah berhijab :)