Jumat, 02 Februari 2018

Say No To Ghibah !!


Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu adisebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya.
Dalam salah satu hadits riwayat Muslim, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwa ghibah adalah “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan apa yang ia tidak menyukainya.”

Saat ini ghibah sangat sulit dihindari bukan?? Betul tidak?? Contoh saja "Ketika si A ngomongin B yang macam-macam atau bisa juga dari media sosial terus dijadikan obrolan sudah pasti akan dibumbui untuk membicarakan oranglain. hal seperti itu saja termasuk golongan ghibah."

Jujur saja saya pribadi masih banyak intropeksi diri dan berpikir. Ucapan simpel seperti itu saja termasuk ghibah?! Lalu berapa banyak ghibah yang saya lakukan selama ini ?! Berapa banyak makan bangkai orang lain yang sudah mati?! Astaghfirullaaah. Na’udzubillaahi min dzaalik. 😦



Hukum Ghibah ada 3 yaitu Haram,wajib,dan Boleh :

1. Haram yaitu ketika kita membicarakan aib sesama muslim yang dirahasiakan. Baik aib itu terkait dengan bentuk fisik atau perilaku; terkait dengan agama atau duniawi. Apabila mampu mengingkari dengan lisan atau dengan mengalihkan pembicaraan maka hal itu wajib dilakukan. Apabila tidak dilakukan, maka ia berdosa.

2. Wajib yaitu terjadi dalam situasi di mana ia dapat menyelamatkan seseorang dari bencana atau potensi terjadinya sesuatu yang kurang baik. Misalnya, ada seorang pria atau wanita yang ingin menikah. Dia meminta nasihat tentang calon pasangannya. Maka, si pemberi nasihat wajib memberi tahu keburukan atau aib calon pasangannya sesuai dengan fakta yang diketahui pemberi nasihat.

3. Boleh yaitu Imam Nawawi dalam Riyadus Shalihin 2/182 membagi gosip atau ghibah yang dibolehkan menjadi enam sebagai berikut:


الأول: التظلم، فيجوز للمظلوم أن يتظلم إلى السلطان والقاضي وغيرهما مما له ولاية أو قدرة على إنصافه من ظالمه، فيقول: ظلمني فلان كذا.
الثاني: الاستعانة على تغيير المنكر ورد المعاصي إلى الصواب، فيقول لمن يرجو قدرته على إزالة المنكر: فلان يعمل كذا، فازجره عنه.
الثالث: الاستفتاء، فيقول: للمفتي: ظلمني أبي، أو أخي، أو زوجي، أو فلان بكذا.
الرابع: تحذير المسلمين من الشر ونصيحتهم.
الخامس: أن يكون مجاهرًا بفسقه أو بدعته، كالمجاهر بشرب الخمر ومصادرة الناس وأخذ المكس وغيرها.
لسادس: التعريف، فإذا كان الإنسان معروفًا بلقب الأعمش، والأعرج والأصم، والأعمى والأحول، وغيرهم جاز تعريفهم بذلك.

Artinya: 
Pertama, At-Tazhallum. Orang yang terzalimi boleh menyebutkan kezaliman seseorang terhadap dirinya. Tentunya hanya bersifat pengaduan kepada orang yang memiliki qudrah (kapasitas) untuk melenyapkan kezaliman. 

Kedua, isti’ānah (meminta pertolongan) untuk merubah atau menghilangkan kemunkaran. Seperti mengatakan kepada orang yang diharapkan mampu menghilangkan kemungkaran: "Fulan telah berbuat begini (perbuatan buruk). Cegahlah dia."

Ketiga, Al-Istifta' atau meminta fatwa dan nasihat seperti perkataan peminta nasihat kepada mufti (pemberi fatwa): "Saya dizalimi oleh ayah atau saudara, atau suami."

Keempat, at-tahdzīr lil muslimīn (memperingatkan orang-orang Islam) dari perbuatan buruk dan memberi nasihat pada mereka.

Kelima, orang yang menampakkan kefasikan dan perilaku maksiatnya. Seperti menampakkan diri saat minum miras (narkoba), berpacaran di depan umum, dll.

Keenam, memberi julukan tertentu pada seseorang. Apabila seseorang dikenal dengan julukan

Kategori dan bolehnya ghibah untuk enam kasus di atas disetujui oleh Imam Qurtubi dan dianggap pendapat yang ijmak. Dalam Tafsir Al-Qurtubi 16/339 iya menyatakan
وكذلك قولك للقاضي تستعين به على أخذ حقك ممن ظلمك فتقول فلان ظلمني أو غصبني أو خانني أو ضربني أو قذفني أو أساء إلي، ليس بغيبة. وعلماء الأمة على ذلك مجمعة

Artinya: Begitu juga ucapan anda pada hakim meminta tolong untuk mengambil hak anda yang diambil orang yang menzalimi lalu anda berkata pada hakim: Saya dizalimi atau dikhianati atau dighasab olehnya maka hal itu bukan ghibah. Ulama sepakat atas hal ini.

As-Shan'ani dalam Subulus Salam 4/188 menyatakan
والأكثر يقولون بأنه يجوز أن يقال للفاسق : يا فاسق , ويا مفسد , وكذا في غيبته بشرط قصد النصيحة له أو لغيره لبيان حاله أو للزجر عن صنيعه لا لقصد الوقيعة فيه فلا بد من قصد صحيح

Artinya: Kebanyakan ulama berpendapat bahwa boleh memanggil orang fasik (pendosa) dengan sebutan Wahai Orang Fasiq!, Hai Orang Rusak! Begitu juga boleh meggosipi mereka dengan syarat untuk bermaksud menasihatinya atau menasihati lainnya untuk menjelaskan perilaku si fasiq atau untuk mencegah agar tidak melakukannya. Bukan dengan tujuan terjatuh ke dalamnya. Maka (semua itu) harus timbul dari maksud yang baik


Saya seorang wanita sekaligus istri dan ibu jadi tau betul kebiasaan seorang wanita yang susah banget hilang yaitu ngerumpi bahkan jadi hobi kalau bertemu teman atau berkumpul dengan tetangga. Rasanya ini mulut gatel ada aja yang ingin dibahas dan di obrolin apapun itu bahkan hal tekecil pun akan di obrolin. Kebiasaan ngerumpi ini selalu dibumbui dengan ngomongin orang. Bagus kalau yang diomongin yang baik-baik. Kalau yang jelek-jelek?!.
Yang tadinya cuma basa-basi ketemu dijalan atau pas lagi janjian di kafe atau bisa juga di sosial media,celah untuk berghibah ini dimana saja pasti ada.

Taukah kalian dosa ghibah itu bukan hanya yang ngomong tapi yang mendengarkan juga. Padahal mulut kita udah dijaga sedemikian rupa buat nggak bergosip, tapi ada aja orang yang ngegosip di sekitar kita. Seperti yang saya sebutkan di awal tadi, bahwa sekarang susah buat menghindari ghibah. Lisan kita berbicara dan berkomentar tak hanya lewat mulut. Tanpa sadar, sekedar komentar caption Instagram atau me-like status FB atau me-RT tweet teman yang “berbau” ghibah (sekalipun nomention), termasuk dosa ghibah juga nggak tuh??

"susah kan kalau nggak ngomongin orang lain"
Ya saya akui sangat susah,saya pun masih belum bisa melakukannya. ALLAH jelas-jelas melarang ghibah. Berarti selain dosa, hal itu juga nggak baik buat kita. Berarti kita pun pasti mampu menghindarinya. Selama kita melakukannya dengan niat karena ALLAH, ALLAH-lah yang akan memudahkan.

Saya menulis ini bukan karena saya sok pintar atau sok suci tapi tujuannya untuk mengingatkan diri sendiri. Lalu juga untuk mengingatkan orang lain supaya menjadi renungan pribadinya(kalau tidak keberatan). Saya pun juga masih belajar untuk memperbaiki diri dalam hal itu. Saya pun menulis ini untuk mengajak ayo mari kita sama-sama mencoba membersihkan lisan dari bentuk ghibah sekecil apapun itu !!. 



16 komentar:

Amallia Sarah mengatakan...

Bener mba. Ghibah itu selain bisa merugikan kita, juga bahaya ke fitnah. Mending bener, kalau salah kan bagaimana ya..

Eloklicious mengatakan...

mak...kalo denger infotainment piye?

fillyawie mengatakan...

Bagus sekali mba tulisannya, sarat informasi yang baik sekali. Zaman sekarang ghibah bisa terjadi dimana saja bukan hanya dalam obrolan face to face. Ghibah di chat group, di sosmed, di skype, subhanallah berat sekali menghindar dari ghibah. Tapi harus berusaha ya kaan.

Uli Hape mengatakan...

iya nih masih susah juga buatku untuk menghindari ghibah , berusaha belajar selalu.

Nisa Mama KeySyaFarlo mengatakan...

Reminder buat diri sendiri
Thanx shel....

shela anjar rani mengatakan...

setuju 😁

shela anjar rani mengatakan...

ini juga termasuk ghibah mak...😊
Maka dari itu ghibah semakin sulit dihindari karena kita dapat ghibah darimana saja termasuk medsos 😊

shela anjar rani mengatakan...

terima kasih mba @fillyawie

shela anjar rani mengatakan...

sama mba @ulihape aku juga masih belajar...😊

shela anjar rani mengatakan...

sama2 mama arlo 😊

Fanny f nila mengatakan...

Reminder utk diriku sendiri. Ghibah melalui tv seperti acara gosip2, udh lama aku tinggalin. Yg di sosmed kayak ig, jg udh aku apus. Ga pgn lbh menambah dosa lg dengan baca gunjingan orang

Eva Arlini mengatakan...

Astaghfirullah.. kita kita perempuan ini memang mudah sekali terpancing berghibah, moga Allah mengampuni kita dan menjauhkan dari perbuatan ghibah.. amin

Ucig mengatakan...

Aku nyoba diam aja mbaa.. meski mungkin dibilang nggak asyik dll. Gpp.. hehe
Curhat sama suami udah cukup. Klo yg lain bisa mlebar. Serem

shela anjar rani mengatakan...

insya allah ya mba semoga saya bisa seperti mba 😊

shela anjar rani mengatakan...

amin 🙏

shela anjar rani mengatakan...

iya betul mba aku juga paling suka curhat sm suami 😊