Selasa, 27 Maret 2018

Pahami Kata "Jangan/tidak" itu dalam Pengasuhan Anak







Ulah anak seringkali membuat kita emosi lalu dengan penuh kekhawatiran orang tua pun melarang gerak-gerik sang anak. Kebanyakan orang tua selalu melakukan kesalahan yang sama. Tanpa disadari kata "Jangan/Tidak" itu seringkali diucapkan, bahkan menjadi kosakata dalam kehidupan sehari-hari.

Makanya secara teori kita disarankan untuk mengurangi kata "Jangan/Tidak" dengan mencari kata alternatif yang bersifat positif kepada anak. Contohnya "Jangan main tanah" bisa diganti "Boleh main tanah tapi setelah itu cuci tangan yang bersih ya", atau "Jangan berantakan" bisa diganti "Nanti setelah bermain dirapikan kembali ya". Awal-awal kalau dipikir mudah banget, tapi ternyata prakteknya ya ampun susah juga loh...
😂

Dalam keadaan tertentu saat menghadapi tingkah anak, orang tua tidak bisa memikirkan hal lain selain kata "Jangan/Tidak" supaya anak tidak melakukan hal-hal tersebut. Para orang tua masa kini masih bingung terhadap pelanggaran kata "Jangan/Tidak" dalam pola mendidik anak. Dan juga banyak sekali artikel dari berbagai pakar parenting serta psikolog yang membahas orang tua untuk menghindari kata "Jangan/Tidak" kepada anak.

Bagi saya secara pribadi penggunaan kata "Jangan/Tidak" sebaiknya diucapkan pada saat situasi tertentu. Sebetulnya kata "Jangan/Tidak" sangat perlu untuk media belajar aturan-aturan tertentu pada sang anak mana yang boleh dia lakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Anak pun tidak hanya butuh paparan positif saja namun paparan negatif juga mereka harus tau.

Sebab dalam kehidupan sehari-hari kata "Jangan/Tidak" itu bisa menjadi kebaikan atau keburukan di hidupnya saat nanti dewasa. Bagi saya dalam menggunakan kata tersebut sertai juga alasan mengapa kata "Jangan/Tidak" itu harus dikeluarkan. Jadi anak juga mengetahui konsep sebab akibat pada hal yang dilakukannya. Jujur saya juga seringkali mengatakan kata "Jangan/Tidak" kepada zahrani tetapi dalam kondisi tertentu. Dimana kondisi tersebut diluar jangkauan yang dia lakukan artinya bisa membahayakan untuk dirinya.

Kata "Jangan/Tidak" memang terkesan mengarahkan, mengatur, membimbing bahkan membatasi. Tetapi sebenarnya tidak perlu ada yang di takutkan dalam penggunaan kata "Jangan/Tidak" ini terhadap anak selama dalam kondisi yang wajar dan tepat digunakannya. Jadi, kira-kira bagaimana tanggapan kalian secara pribadi?? Yuk sharing. 😉

4 komentar:

Amallia Sarah mengatakan...

Memang perlu ya mba mengganti kata jangan itu... Biar anak ga salah paham

megasavithri mengatakan...

Sepakat mba, saya pun sering kok menggunakan kata jangan, tentunya disertai dengan alasan yang jelas. Karena anak juga harus tahu dan belajar batasan hitam dan putih. Jadi menurut saya kata-jangan- itu perlu digunakan agar anak mengerti.

herva yulyanti mengatakan...

Kalau saya sih tetap mengatakan jangan/tidak namun ada alasan yang saya berikan bahkan dalam Al-quran pun disana diberikan contoh penggunaaan kata jangan yang dilanjutkan dengan alasan ")

Farida mengatakan...

Batasan tetap perlu dikenalkan ke anak ya sesuai usia��